{"id":923,"date":"2022-03-28T09:00:26","date_gmt":"2022-03-28T09:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/?p=923"},"modified":"2022-03-28T09:00:26","modified_gmt":"2022-03-28T09:00:26","slug":"disdikbud-ikut-serta-earth-hour-day-2022","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/?p=923","title":{"rendered":"DISDIKBUD IKUT SERTA EARTH HOUR DAY 2022"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/pak-leo-rapat-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-924\" srcset=\"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/pak-leo-rapat-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/pak-leo-rapat-300x169.jpg 300w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/pak-leo-rapat-768x432.jpg 768w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/pak-leo-rapat-410x231.jpg 410w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/pak-leo-rapat.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/rapat-pak-leo-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-925\" srcset=\"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/rapat-pak-leo-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/rapat-pak-leo-300x169.jpg 300w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/rapat-pak-leo-768x432.jpg 768w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/rapat-pak-leo-410x231.jpg 410w, https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/rapat-pak-leo.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Putussibau \u2013 WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour (EH) Indonesia mengundang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu untuk hadir sebagai salah satu nara sumber dalam ruang virtual Kelas Kehati (Keanekaragaman Hayati) Kesatria Lingkungan Hidup pada hari Sabtu, 26 Maret 2022. Kelas yang dimulai pada pukul 13.00 tersebut merupakan momen Peluncuran Cerita untuk Anak Khas Papua dan Kalimantan Barat. Peluncuran cerita ditandai dengan penayangan kompilasi video dari sepuluh cerita anak, yakni <em>The Last Tree<\/em> (kisah tentang burung cenderawasih), <em>Noken<\/em>, <em>Sagu<\/em>, <em>Penyu Belimbing<\/em>, <em>Kura-kura Moncong Babi<\/em>, <em>Bekantan<\/em>, <em>Tenun vs T-Shirt<\/em>, <em>Orang Utan Borneo<\/em>, <em>Madu Hutan<\/em>, dan <em>Rangkong<\/em>. Cerita-cerita ini dikemas dalam bentuk animasi dan dimuat pada platform digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sepuluh cerita di atas, ada tiga cerita yang berlatarkan Kabupaten Kapuas Hulu dan yang digarap pula oleh kreator-kreator setempat. Ketiga cerita tersebut adalah <em>Orang Utan Borneo<\/em>, <em>Madu Hutan<\/em> dan <em>Rangkong<\/em>. Lydia, mewakili tim kreatif mengungkapkan bahwa data-data untuk membuat cerita diperoleh dari diskusi dengan warga setempat dan dengan para aktivis lingkungan hidup. Lydia juga menceritakan tantangan yang dihadapi dalam proses penyelesaian animasi. \u201cYang sulit adalah menciptakan kecocokan antara warna suara dan intonasi dengan karakteristik tokoh-tokoh dalam cerita, misalnya bagaimana menghasilkan suara yang cocok untuk karakter induk orang utan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Leonardus S.S.,M.Th, adalah widya Prada Bidang Pendidikan Dasar dari Disdikbud KH  yang hadir sebagai narasumber  turut menyampaikan apresiasi kepada tim kreatif karena berkat jerih payah mereka produk-produk animasi yang informatif dan edukatif dapat dinikmati oleh anak-anak di Kabupaten Kapuas Hulu, bahkan di seluruh Indonesia. Produk-produk animasi tersebut, menurut Leo, sarat dengan informasi yang bermanfaat. Banyak orang akan mengetahui bahwa madu adalah hasil jerih payah kawanan lebah yang produktivitasnya ternyata ditunjang oleh kawasan hutan yang kondisinya masih prima dan terjaga dengan baik. Melalui cerita <em>Rangkong<\/em> dan <em>Orang Utan Borneo<\/em>, anak-anak akan mengetahui betapa kedua spesies satwa ini berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem dengan cara menyebarkan biji-biji buah-buahan yang telah mereka makan. Anak-anak juga akan mengetahui bahwa kedua spesies satwa tersebut sangat dihargai dan dilindungi, baik oleh kearifan lokal melalui hukum adat, maupun oleh pemerintah. \u201cProduk-produk animasi ini membangkitkan kesadaran bahwa alam telah terlebih dahulu berbuat baik kepada kita manusia,\u201d kata Leonardus. \u201cHutan menyediakan bagi kita sumber daya yang menopang kehidupan. Oleh karena itu, manusia mempunyai kewajiban moral untuk berbuat baik juga kepada alam. Praktik baik, yakni moralitas dan etika, harus diterapkan tidak hanya dalam konteks hubungan antarmanusia, tetapi juga dalam konteks hubungan antara manusia dengan alam,\u201d lanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Leonardus menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu telah mengambil langkah-langkah strategis dalam menyikapi isu-isu lingkungan hidup. Pada tahun 2014, mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup telah mendapatkan landasan dan payung hukum melalui Peraturan Bupati Kapuas Hulu Nomor 9 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal. Mengingat semakin mendesaknya kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup dan budaya daerah, Peraturan ini akan direvisi lagi pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Leonardus juga menambahkan bahwa Dinas telah mengakomodasi perencanaan kegiatan <em>Green School Award 2023<\/em> untuk memotivasi satuan-satuan pendidikan supaya berperan lebih aktif dalam melakukan praktik-praktik baik terkait isu lingkungan hidup dan menularkannya kepada masyarakat di sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu mengapresiasi WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour Indonesia yang telah memprakarsai praktik baik menyebarluaskan pesan-pesan cinta lingkungan dan budaya melalui dongeng pada platform digital. Bagaimanapun, sebagaimana telah dikemukakan oleh Najaela Shihab selaku Board Yayasan WWF Indonesia, WWF berkarya tidak semata-mata bagi satwa dan kehidupan liar. Ada karya dan tindakan yang harus meningkatkan kesadaran dan kapasitas manusia terkait isu-isu lingkungan hidup. Terkait menyusutnya keanekaragaman hayati, rusaknya lingkungan hidup maupun usaha-usaha pemulihannya, manusia adalah subjeknya, di hilir maupun di hulu. Sebagai spesies yang dikaruniai akal budi, manusia adalah makhluk yang paling bertanggung jawab. Semoga pesan-pesan cinta lingkungan dan budaya dapat dipahami dan menginspirasi anak-anak dan generasi muda kita sehingga bumi, rumah kita satu-satunya di alam semesta ini, tetap dapat menjadi tempat hunian yang aman dan nyaman bagi segenap makhluk yang berdiam di atasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 2021, tepatnya tanggal 6 Desember 2021, telah dilaksanakan penyelesaian tahap akhir Rumusan Silabus dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Kearifan Lokal untuk Jenjang Sekolah Dasar. Rumusan Silabus dan Kompetensi Dasar tersebut merupakan hasil kerja sama antara WWF Indonesia Hulu Kapuas Landscape Office dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam apresiasinya kepada\npara kreator konten cerita anak, Anna Surti Ariani mengungkapkan bahwa dongeng\nmerupakan medium yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak. Mbak\nAni \u2013 demikian psikolog ini biasa disapa \u2013 mengajak semua pihak untuk menyadari\nbahwa otak anak sedang berada pada fase perkembangan. Kemampuan kognitif anak\nbelum berkembang optimal sekompleks kemampuan orang dewasa. Justru dalam\nkondisi demikian, dongeng-dongeng, walaupun sangat sederhana, sangat bermanfaat\nsebagai masukan awal tentang pesan-pesan cinta lingkungan dan budaya daerah.\n\u201cManfaat dongeng itu banyak sekali,\u201d kata Mbak Ani. \u201cDongeng mendekatkan anak\ndengan Si Pencerita dan dengan dunia yang ada di dalam cerita. Dongeng menambah\nkosa kata anak dan mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa. Tidak hanya itu,\ndongeng juga bermanfaat mematangkan emosi anak karena dongeng memunculkan rasa\nsenang dan nyaman pada anak. Yang tak kalah penting adalah kemampuan dongeng\ndalam membuat suatu konsep yang rumit seperti <em>eco-literacy<\/em> menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak,\u201d\nlanjutnya. Mbak Ani juga menyarankan para pendidik dan orang tua menyediakan\nkesempatan dan ruang diskusi manakala anak-anak mengalami kesulitan dalam\nmemahami isi suatu cerita.<\/p>\n\n\n\n<p>Nara sumber berikut, Najaela\nShihab, menyampaikan apresiasi dari sisi teknologi digital. \u201cTeknologi dan\ndigitalisasi adalah suatu keniscayaan,\u201d kata praktisi pendidikan yang biasa\ndipanggil Mbak Ela ini. \u201cKita harus mengakui bahwa teknologi bisa meningkatkan\n(kualitas) proses edukasi. Para orang tua dan pendidik tidak boleh panik ketika\nberhadapan dengan isu digitalisasi,\u201d lanjutnya. Mbak Ela mengungkapkan bahwa dongeng\ndigital dihasilkan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi lebih, bukan hanya\nketerampilan bercerita semata-mata. Kompetensi itu adalah kemampuan menggunakan\nteknologi. \u201cDengan adanya dongeng digital, anak-anak Indonesia tidak hanya\nmenjadi konsumen konten-konten digital, tetapi memiliki peluang mengembangkan\nkemampuan sebagai kreator konten,\u201d kata Mbak Ela lagi,<\/p>\n\n\n\n<p>Kendati mendorong\nberkembangnya digitalisasi, Mbak Ela mengingatkan para pendidik dan orang tua\nbahwa stimulan-stimulan dari luar dunia digital tetap penting bagi pertumbuhan\ndan perkembangan anak-anak. \u201cAnak-anak tetap membutuhkan permainan-permainan\nsebagai sarana sosialisasi maupun aktivitas-aktivitas fisik lainnya. Kita juga\ntidak boleh <em>overestimate<\/em> terhadap\ndunia digital. Dunia digital itu ibarat pasar. Ada penjual yang baik, ada pula\npenjual yang jahat yang sama sekali tidak boleh didekati. Orang tua dan\npendidik tidak boleh lalai dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak\nketika mereka menjelajahi dunia digital. Bagaimanapun, anak-anak kita harus\nkompeten di dunia maya maupun di dunia nyata,\u201d kata Mbak Ela dalam <em>closing statement<\/em>-nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kelas Kehati, yang berakhir\npada pukul 15.00 Wib, merupakan salah satu sesi dari rangkaian acara\nmemperingati Earth Hour Day 2022. Acara yang disiarkan secara live streaming\nmelalui channel YouTube Earth Hour Indonesia ini berlangsung kurang lebih\nselama sebelas jam. Puncak acara adalah pemadaman listrik di seluruh dunia pada\npukul 20:30 sampai dengan 21:30 waktu setempat.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Putussibau \u2013 WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour (EH) Indonesia mengundang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu untuk hadir sebagai salah satu nara sumber dalam ruang virtual Kelas Kehati (Keanekaragaman Hayati) Kesatria Lingkungan Hidup pada hari Sabtu, 26 Maret 2022. Kelas yang dimulai pada pukul 13.00 tersebut merupakan momen Peluncuran Cerita untuk Anak Khas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/923"}],"collection":[{"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=923"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/923\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":926,"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/923\/revisions\/926"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/disdikbud.kapuashulukab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}