Putussibau – WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour (EH) Indonesia mengundang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu untuk hadir sebagai salah satu nara sumber dalam ruang virtual Kelas Kehati (Keanekaragaman Hayati) Kesatria Lingkungan Hidup pada hari Sabtu, 26 Maret 2022. Kelas yang dimulai pada pukul 13.00 tersebut merupakan momen Peluncuran Cerita untuk Anak Khas Papua dan Kalimantan Barat. Peluncuran cerita ditandai dengan penayangan kompilasi video dari sepuluh cerita anak, yakni The Last Tree (kisah tentang burung cenderawasih), Noken, Sagu, Penyu Belimbing, Kura-kura Moncong Babi, Bekantan, Tenun vs T-Shirt, Orang Utan Borneo, Madu Hutan, dan Rangkong. Cerita-cerita ini dikemas dalam bentuk animasi dan dimuat pada platform digital.

Dari sepuluh cerita di atas, ada tiga cerita yang berlatarkan Kabupaten Kapuas Hulu dan yang digarap pula oleh kreator-kreator setempat. Ketiga cerita tersebut adalah Orang Utan Borneo, Madu Hutan dan Rangkong. Lydia, mewakili tim kreatif mengungkapkan bahwa data-data untuk membuat cerita diperoleh dari diskusi dengan warga setempat dan dengan para aktivis lingkungan hidup. Lydia juga menceritakan tantangan yang dihadapi dalam proses penyelesaian animasi. “Yang sulit adalah menciptakan kecocokan antara warna suara dan intonasi dengan karakteristik tokoh-tokoh dalam cerita, misalnya bagaimana menghasilkan suara yang cocok untuk karakter induk orang utan,” ungkapnya.

Leonardus S.S.,M.Th, adalah widya Prada Bidang Pendidikan Dasar dari Disdikbud KH yang hadir sebagai narasumber turut menyampaikan apresiasi kepada tim kreatif karena berkat jerih payah mereka produk-produk animasi yang informatif dan edukatif dapat dinikmati oleh anak-anak di Kabupaten Kapuas Hulu, bahkan di seluruh Indonesia. Produk-produk animasi tersebut, menurut Leo, sarat dengan informasi yang bermanfaat. Banyak orang akan mengetahui bahwa madu adalah hasil jerih payah kawanan lebah yang produktivitasnya ternyata ditunjang oleh kawasan hutan yang kondisinya masih prima dan terjaga dengan baik. Melalui cerita Rangkong dan Orang Utan Borneo, anak-anak akan mengetahui betapa kedua spesies satwa ini berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem dengan cara menyebarkan biji-biji buah-buahan yang telah mereka makan. Anak-anak juga akan mengetahui bahwa kedua spesies satwa tersebut sangat dihargai dan dilindungi, baik oleh kearifan lokal melalui hukum adat, maupun oleh pemerintah. “Produk-produk animasi ini membangkitkan kesadaran bahwa alam telah terlebih dahulu berbuat baik kepada kita manusia,” kata Leonardus. “Hutan menyediakan bagi kita sumber daya yang menopang kehidupan. Oleh karena itu, manusia mempunyai kewajiban moral untuk berbuat baik juga kepada alam. Praktik baik, yakni moralitas dan etika, harus diterapkan tidak hanya dalam konteks hubungan antarmanusia, tetapi juga dalam konteks hubungan antara manusia dengan alam,” lanjutnya.

Leonardus menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu telah mengambil langkah-langkah strategis dalam menyikapi isu-isu lingkungan hidup. Pada tahun 2014, mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup telah mendapatkan landasan dan payung hukum melalui Peraturan Bupati Kapuas Hulu Nomor 9 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal. Mengingat semakin mendesaknya kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup dan budaya daerah, Peraturan ini akan direvisi lagi pada tahun ini.

Leonardus juga menambahkan bahwa Dinas telah mengakomodasi perencanaan kegiatan Green School Award 2023 untuk memotivasi satuan-satuan pendidikan supaya berperan lebih aktif dalam melakukan praktik-praktik baik terkait isu lingkungan hidup dan menularkannya kepada masyarakat di sekitarnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu mengapresiasi WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour Indonesia yang telah memprakarsai praktik baik menyebarluaskan pesan-pesan cinta lingkungan dan budaya melalui dongeng pada platform digital. Bagaimanapun, sebagaimana telah dikemukakan oleh Najaela Shihab selaku Board Yayasan WWF Indonesia, WWF berkarya tidak semata-mata bagi satwa dan kehidupan liar. Ada karya dan tindakan yang harus meningkatkan kesadaran dan kapasitas manusia terkait isu-isu lingkungan hidup. Terkait menyusutnya keanekaragaman hayati, rusaknya lingkungan hidup maupun usaha-usaha pemulihannya, manusia adalah subjeknya, di hilir maupun di hulu. Sebagai spesies yang dikaruniai akal budi, manusia adalah makhluk yang paling bertanggung jawab. Semoga pesan-pesan cinta lingkungan dan budaya dapat dipahami dan menginspirasi anak-anak dan generasi muda kita sehingga bumi, rumah kita satu-satunya di alam semesta ini, tetap dapat menjadi tempat hunian yang aman dan nyaman bagi segenap makhluk yang berdiam di atasnya.

Pada tahun 2021, tepatnya tanggal 6 Desember 2021, telah dilaksanakan penyelesaian tahap akhir Rumusan Silabus dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Kearifan Lokal untuk Jenjang Sekolah Dasar. Rumusan Silabus dan Kompetensi Dasar tersebut merupakan hasil kerja sama antara WWF Indonesia Hulu Kapuas Landscape Office dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu.

Dalam apresiasinya kepada para kreator konten cerita anak, Anna Surti Ariani mengungkapkan bahwa dongeng merupakan medium yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak. Mbak Ani – demikian psikolog ini biasa disapa – mengajak semua pihak untuk menyadari bahwa otak anak sedang berada pada fase perkembangan. Kemampuan kognitif anak belum berkembang optimal sekompleks kemampuan orang dewasa. Justru dalam kondisi demikian, dongeng-dongeng, walaupun sangat sederhana, sangat bermanfaat sebagai masukan awal tentang pesan-pesan cinta lingkungan dan budaya daerah. “Manfaat dongeng itu banyak sekali,” kata Mbak Ani. “Dongeng mendekatkan anak dengan Si Pencerita dan dengan dunia yang ada di dalam cerita. Dongeng menambah kosa kata anak dan mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa. Tidak hanya itu, dongeng juga bermanfaat mematangkan emosi anak karena dongeng memunculkan rasa senang dan nyaman pada anak. Yang tak kalah penting adalah kemampuan dongeng dalam membuat suatu konsep yang rumit seperti eco-literacy menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak,” lanjutnya. Mbak Ani juga menyarankan para pendidik dan orang tua menyediakan kesempatan dan ruang diskusi manakala anak-anak mengalami kesulitan dalam memahami isi suatu cerita.

Nara sumber berikut, Najaela Shihab, menyampaikan apresiasi dari sisi teknologi digital. “Teknologi dan digitalisasi adalah suatu keniscayaan,” kata praktisi pendidikan yang biasa dipanggil Mbak Ela ini. “Kita harus mengakui bahwa teknologi bisa meningkatkan (kualitas) proses edukasi. Para orang tua dan pendidik tidak boleh panik ketika berhadapan dengan isu digitalisasi,” lanjutnya. Mbak Ela mengungkapkan bahwa dongeng digital dihasilkan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi lebih, bukan hanya keterampilan bercerita semata-mata. Kompetensi itu adalah kemampuan menggunakan teknologi. “Dengan adanya dongeng digital, anak-anak Indonesia tidak hanya menjadi konsumen konten-konten digital, tetapi memiliki peluang mengembangkan kemampuan sebagai kreator konten,” kata Mbak Ela lagi,

Kendati mendorong berkembangnya digitalisasi, Mbak Ela mengingatkan para pendidik dan orang tua bahwa stimulan-stimulan dari luar dunia digital tetap penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. “Anak-anak tetap membutuhkan permainan-permainan sebagai sarana sosialisasi maupun aktivitas-aktivitas fisik lainnya. Kita juga tidak boleh overestimate terhadap dunia digital. Dunia digital itu ibarat pasar. Ada penjual yang baik, ada pula penjual yang jahat yang sama sekali tidak boleh didekati. Orang tua dan pendidik tidak boleh lalai dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak ketika mereka menjelajahi dunia digital. Bagaimanapun, anak-anak kita harus kompeten di dunia maya maupun di dunia nyata,” kata Mbak Ela dalam closing statement-nya.

Kelas Kehati, yang berakhir pada pukul 15.00 Wib, merupakan salah satu sesi dari rangkaian acara memperingati Earth Hour Day 2022. Acara yang disiarkan secara live streaming melalui channel YouTube Earth Hour Indonesia ini berlangsung kurang lebih selama sebelas jam. Puncak acara adalah pemadaman listrik di seluruh dunia pada pukul 20:30 sampai dengan 21:30 waktu setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *